27 June 2005

Polygami VS Polyphonic

Berita tentang cinta segitiga antara Nia Daniati, Farhat Abas dan Ani tidak hanya ramai dibicarakan oleh infotainment atau tabloid-tabloid gosip saja tapi sudah menjadi topik diskusi setelah jam makan siang, bahkan Saya dan Suami pun ikut membahas niat Farhat untuk berpoligami. Bukannya ikutan gosipin orang lho, tapi belajar dari kasus orang lain boleh kan ?? sebagai wacana gittu lloh.

Siang ini setelah makan siang, seperti biasa obrolan ringan meluncur begitu saja. Kali ini mengomentari soal polygami khususnya kasus Nia dan Farhat."Kasihan ya Nia, biasa laki-laki emang gitu.Giliran udah sukses dan merasa dipuncak karir mulai deh bertingkah trus pake jurus polygami", komentar salah satu teman saya sambil membolak balik salah satu tabloid gosip minggu ini. "Iya, kalau gue sih sampe mati nggak bakalan ngijinin suami gue polygami, hari gini suka sama suami orang pliss deh...kayak nggak ada laki-laki lain ajja", timpal teman saya yang lain nggak kalah semangat.

Saya yang mendengar cuma cengar-cengir sambil terus melototin layar komputer. "Yan, emang sah gitu nikah lagi tanpa ijin dari istri pertama?", tanya teman saya. Saya yang sedang asik jadi kaget dan langsung spontan jawab,"Ya, sah asal ada saksi dan mas kawin". "Berarti polygami nggak adil dong buat kita wanita?" timpal teman saya. "Eh, maksudnya begini, sepengetahuan gue sih suami emang nggak wajib hukumnya minta ijin ke istri untuk kawin lagi tapi demi kebaikan dan hubungan silaturahmi alangkah lebih baiknya kalo meminta ijin dulu", jelas Saya.

"Ah..gue sih tetep nggak setuju sama yang namanya polygami pokoknya nggak ada dikamus gue", papar teman saya tadi."Iya, gue juga. Lagian wanita mana sih yang mau dimadu? Lu setuju nggak Yan ?", tanya teman saya menyelidik. Wah, mulai serius neh. Pertanyaan yang agak susah untuk dijawab. Saya mulai ikutan serius,"sebenarnya polygami itu alternatif cara yang dihalal kan oleh Alloh supaya kita terhindar dari zina. Efek sebenarnya juga untuk memuliakan kedudukan wanita. Jadi polygami itu diperbolehkan, asal dapat memenuhi syaratnya yaitu mampu secara materi dan dapat berbuat adil. Kalo soal materi mungkin banyak yang mampu, tapi bagaimana dengan berbuat adil? So kalo ngerasa nggak bisa berlaku adil mendingan satu istri aja", jelas saya hati-hati, takut disalah artikan.

"Berarti lu setuju dong sama Polygami ?", balas teman saya yang lain. "Ya setuju, kan sudah ada aturannnya di agama", jawab saya sambil tersenyum. "Berarti lu nggak keberatan kalo suami lu kawin lagi?Lu mau dimadu gitu?", teman saya makin penasaran. "Nggak mau !!", jawab saya ringan. "Lho kok? tadi katanya setuju ?". "Iya, gue setuju ada polygami tapi gue nggak setuju kalo suami gue polygami. Gue ngerasa, dia belum mampu untuk berpolygami", jelas saya. "Gggrrrrrrr...itu sih sama ajja, intinya lu tuh nggak mau diduain iya khan ???", semuanya serempak menjawab. Saya sih cuma senyum-senyum aja, nggak tau musti ngomong apa lagi.

***
Seperti polyphonic, saat ini polygami emang sedang ngetrend. Kelonggaran ini dijadikan senjata oleh para suami untuk nikah lagi dengan alasan "Nabi aja dulu istrinya 4, masak Ayah mau punya istri 2 aja nggak boleh". Geduuubraaaaaaaak, "Ayah kan bukan Nabi, lagian wanita yang dinikahin Nabi adalah janda-janda nggak mampu yang ditinggal mati suaminya saat berperang dengan tujuan untuk menyelamatkan aqidah dan membiayai anak-anaknya. Bukan wanita atau janda cantik dan kaya, itu namanya cuma nafsu", jelas saya saat diskusi soal kasus Nia dan Farhat dengan suami saya. "Emang Ayah, ada niat buat polygami?", selidik saya. "Gimana yah, satu aja nggak abis-abis", jawab suami saya sambil senyum-senyum.

Alhamdulillah, semoga apa yang dikatakan Ayah benar-benar tulus dari hati dan nggak akan berubah sampe nanti. Emang benar kata orang bijak bahwa, satu istri itu nggak akan habis, 1000 pun nggak akan cukup. So, buat para suami yang mau polygami mending dipikir dulu 100x, mendingan polyphonic sama ngetrend nya kok....keren lagi. Iya nggak ????

Cheers
Bunda Naila

22 June 2005

Love is Blind ...

Power of love. Itu ungkapan kalimat yang selalu diungkapkan teman saya. Ia selalu tidak dapat mendisposisikan perasaannya tersebut. Ia selalu terjerat oleh perasaannya sendiri. Selalu berada dalam bayangan semu. Ia sadar betul dengan perasaannya tersebut. Cinta yang dimilikinya membuat ia tidak dapat berpikir secara rasional. "Keringanannya" membantu lelaki itu tidak lebih karena rasa yang dimilikinya. Pun dia sadar ketika lelaki itu terkesan seperti memanfaatkan posisinya. Saat ia butuhkan lain tidak. Meskipun saya tidak memungkirinya ia terkenal sebagai sosok yang sering membantu rekan-rekannya.

Seperti biasa ia dihubungi oleh temannya tersebut. Ia diminta untuk membantunya menyelesaikan tugas akhir lelaki itu. Dengan rasa yang dimilikinya, ia ringan saja membantu meskipun terkadang, ia mengeluh, ia dihubungi bila ada keinginan dari temannya sehingga malah terkesan azas manfaat. Tapi Ia tetap saja tidak mampu menolaknya. Ia memiliki kebahagiaan lebih bila membantu lelaki itu mesakipun rasa itu tidak dimilikioleh temannya. Entah mengapa bila ia membantu lelaki tersebut ia merasa lebih "ikhlas" ," jelasnya pada saya.

Begitupun halnya dengan saya. Saya pernah mencoba untuk mengingatkannya atas segala perhatian yang diberikan. Sungguh, saya hanya tidak ingin ia semakin menderita dengan perasaannya sendiri sebab ia berada dalam posisi bertepuk sebelah tangan.

"Terkadang saya sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada diri saya ini," ujarnya sesaat. Tuturnya," Saya pun ingin segera lepas dari kondisi ini, tapi sangat sulit untuk mengahadapi kenyataan". Saya hanya tersenyum. Andaikan ia dapat berpikir secar bijak tentu saja ia dapat membuat sebuah keputusan dalam hidupnya. Yap, dengan menjaga jarak. Saya pikir itu yang tepat. Meskipun itu tidak sesederhana yang dibayangkan apalagi bagi dirinya.

Bila saya membaca ungkapan love is blind. Cinta itu buta. Benak saya dipenuhi olehnya. Mungkin itu yang dialami oleh teman saya ini. Membuatnya tidak dapat berpikir jernih. Saya selalu berharap, suatu saat ia dapat mengelola rasa cintanya itu dalam bingkai yang benar. Alangkah indahnya bila bantuan yang diberikan bukan karena cinta tapi karena persahabatan. Tepatnya karena ukhuwah islamiyah.

Saya pernah menemukan sebuah kalimat bijak – yang mengajarkan saya tentang cinta juga persahabatan.

" Rasa hormat tidak akan pernah membawa kepada persahabatan tapi persahabatan tidak akan pernah ada tanpa rasa hormat".

Inilah yang membuat persahabatan lebih dari sekedar rasa cinta.

21 June 2005

Ketika Mimpi tak jadi kenyataan

Dia sahabat Saya, merasa perkawinannya yang hampir menginjak tahun ke-2 tidak seperti yang dia harapkan. Dia menginginkan suami yang bisa menjadi imam dalam setiap sholatnya, suami yang biasa membangunkanya tengah malam untuk melakukan sholat tahajud bersama dan suami yang bisa menemaninya membaca Al qur'an. Semua hal itu belum terwujud dalam rumah tangganya, sehingga membuatnya merasa rumah tangganya hampa dan berjalan timpang.

Selama ini, Dia sudah telah berusaha mengajak suaminya untuk sama-sama belajar memperbaiki diri. Namun Dia merasa usaha yang dilakukan suaminya belum maksimal. Dia merasa berjalan terlalu cepat, sehingga keluarganya terasa berjalan pincang. Sementara sang suami seperti berjalan ditempat, dan yang lebih parah lagi tak ada kesadaran untuk berubah. Suaminya. Lalu harus bagaimana ?

***

Mungkin Dia mewakili sebagian kita yang memasuki gerbang pernikahan dengan segudang harapan tentang sosok pasangan ideal. Semua dari kita pasti memiliki kriteria tersendiri tentang pasangan ideal. Saking lekatnya harapan itu seakan terus membayangi dan ketika ternyata pasangannya tidak sebagaimana harapannya, maka kecewa.

Ada baiknya kita positive thinking, bahwa kita menikahi pasangan kita dengan segala apa yang ada pada dirinya berupa kelebihan dan kekurangannya. Kita pun punya kekurangan dan kelebihan. Kelebihannya untuk disyukuri, kekurangannya menjadi ladang amal buat kita untuk memperbaikinya karena Allah. Dengan begitu kita tidak akan mudah kecewa terhadap segala kekurangan yang terdapat pada pasangan kita.

Satu lagi, bahwa apa yang kita terima saat ini mungkin tidak baik menurut kita, tapi belum tentu buruk menurut Alloh.

06 June 2005

Perempuan itu.......

Perempuan itu bingung musti gembira atau sedih, mendengar kabar bahwa anak pertamanya diterima masuk salah satu universitas negri di Bogor tanpa test. Untuk ukuran dikampung, hanya orang-orang yang benar-benar mampu saja yang bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi, walaupun kadang kemampuan akademis anak kampung juga tidak bisa dianggap remeh. Namun bibit-bibit unggul itu tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena terbentur masalah biaya. Adakalanya orang tuanya mampu membiayai namun si anak tidak memiliki kemampuan untuk bisa masuk universitas negri.

Karena itulah perempuan itu bingung, harusnya dia bangga karena anaknya bisa diterima di universitas negri, tanpa test lagi. Tapi lagi-lagi dia bingung karena untuk masuk kesana, pertama kali harus membayar uang POM, penataran, jaket almamater dan biaya-biaya lainnya yang jumlahnya hampir mencapai 2 juta rupiah. Bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran orang kampung waktu itu. Belum lagi biaya hidup dan kost disana.

Namun karena dorongan para guru dan melihat minat yang besar dari sang anak untuk sekolah sampai ke jenjang perguruan tinggi akhirnya ia putuskan untuk menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Dengan satu keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi bagi anaknya dimasa yang akan datang. Ia berharap agar kelak anaknya memiliki nasib yang lebih baik darinya. Akhirnya ia putuskan untuk menjual semua barang berharga yang ia miliki termasuk satu-satunya motor yang biasa dipakai suaminya untuk pergi ke kantor.

Sampai pada suatu hari dengan mata berkaca-kaca ia berkata kepada anaknya, "Nduk, terpaksa ibu harus menjual cincin dan kalung mu buat nambahin biaya kuliah dan biaya hidupmu disana". Sambil mencopot kalung yang sedang digunakan anaknya ia kembali berkata, "Mungkin bapak sama ibu ndak bisa ngater kamu sampe Bogor, mending duitnya buat tambahan biaya kamu disana. Ibu yakin kamu bisa ngurus semuanya sendiri."

"Ndak usah mikirin bapak. ibu dan adik-adiakmu, pokoknya kamu belajar yang rajin biar cepet lulus dan langsung dapat kerja. Jangan lupa yang 5 waktu, doakan supaya bapak sama ibu diberi kemudahan mencari rejeki"

**
Akh....kata-kata itu masih jelas teringat, walaupun sudah 10 tahun yang lalu diucapkan. Memang keputusan untuk menyekolahkan saya perguruan tinggi adalah pengorbanan yang besar bagi orang tua saya.
Sebenarnya jauh dilubuk hati ini masih tersimpan sebongkah tanya, sudahkah Saya memenuhi harapan serta membahagiakan kedua orang tua Saya ? Apakah gelar sarjana saya sudah bisa membuat orang tua saya bahagia? atau pekerjaan saya saat ini ? atau karir saya ? atau kiriman saya tiap bulan? atau jangan-jangan saya sama sekali belum membahagiakan orang tua saya?

Memang ndak patas rasanya membandingkan apa yang telah saya berikan denga apa yang telah orang tua berikan kepada saya. Bahkan mungkin tidak akan pernah sebanding.

Yang saya tahu, hanya satu hal yang selalu diharapkan oleh orang tua saya bahkan mungkin juga orang tua Anda yaitu, Do'a.
"Ya Alloh sayangi kedua orang tua ku seperti mereka menyayangi aku sewaktu kecil".

Dedicated to my Mom: Happy Birthday .I can never repay you for all the things you've done for me...I can only love you more and more for each and every one!

03 June 2005

BIJAK MENYIKAPI KENTUT !!!


Cerita berikut ini saya dapat dari teman sekantor Saya, Daromi namanya.

Jangan berpikir judul ini Norak atau Jorok lho. Memang kentut itu jarang dibahas dalam berbagai seminar, diskusi apalagi FGD tentang kentut bahkan oleh dokter sekalipun. Namun Kentut, sekali lagi Kentut adalah hal yang lumrah terjadi dan bersinggungan dengan kehidupan kita sehari hari, walau setiap kali bersinggungan baunya “ SRENG BANGET“ .

Namun demikian kentut dapat terjadi setiap saat, bahkan tanpa predisksi sama sekali dengan berbagai bau dan bunyi. Sebenarnya ada beberapa tipe bunyi dan penyebab mengapa kok sampai berbunyi begitu, tapi itu gak perlu dibahas lah. Manfaatnya sangat kecil, sementara penelitiannya susah, karena selain malu, menunggu orang kentut pun sangat lama, sampai kita terkentut sendiripun mungkin yang ditunggu belum kentut juga.

Terlepas dari bau dan perasaan terhadap orang lain, kentut adalah nikmat ALLAH yang perlu disyukuri. Coba bayangkan seandainya kita tidak bisa kentut, tentu kita akan ke dokter atau salah salah ke dukun untuk bisa kentut. Selain perlu biaya tentu malu juga “ masak keren keren penyakitnya kagak bisa kentut? “. Kentut juga tidak perlu bayar. Bandingkan dengan kencing yang seribu. Coba kalau kentut bayar, ada yang sekali kentut keluar 3 kentutan. Bisa 3 ribu deh. Bisa habis biaya hanya untuk urusan kentut he...he..he...

Namun kentut yang sebenarnya hal wajar telah menjadi hal yang memalukan karena mungkin baunya, sehingga banyak orang yang menahan kentut atau minimalnya berusaha untuk tidak membunyikan kentutnya, atau trik terakhir yang pernah saya dengar, seseorang ketika kentutnya bunyi, buru buru menarik dan menggeser kursi “ “GRUK” sehingga yang terdengar adalah bunyi “GRUK” kursi tersebut.

Bagi kita, sudah seharusnya BIJAK DALAM MENYIKAPI HAL INI. Tidak berlebih lebihan dalam hal ini juga tidak kekurangan atau menahan nahan. Dan kalau ada orang lain yang kentut, terutama kita belum kenal atau orang tersebut mempunyai sifat pemalu, jangan lah membuka AIB orang tersebut, karena mungkin kentutnya memang sudah masanya keluar. Tiga tipe Kejadian yang kita bisa ambil sebagai IBROH , akan saya paparkan sebagai berikut :

Ketika Saya SMA, kebiasaan beberapa orang cowok kalau kentut dikerasin dan di kipasin. Tiba tiba, ketika suasana hening, mungkin karena sudah tidak kuat, seorang cewek kentut dengan bunyi Tiiiiet…! seketika semua ketawa tanpa bisa ditahan, meja dipukul pukul karena lucunya, bahkan ada yang kakinya naik keatas meja sementara pantatnya tetap dikursi sambil memukulkan tumitnya ke meja. Bagaimana dengan si Cewek? Terpukul dan malu, tidak bisa berkata apa apa. Harga dirinya jatuh. Kentut yang ditahan tahan ternyata keluar juga.Pantas kah jadi bahan tertawaan???

Ketika Teman Saya Daromi baru masuk kerja, ada Research tentang Susu Kental Manis di Rural area di Tasik satu Desa dicover oleh 2 orang, yakni teman Saya tadi dan temannya yang kebetulan cewek. Namanya daerah pedalaman, sawah, gunung dan lembah ya perlu kudaki. Eh ketika, naik ke sebuah tempat yang agak tinggi, ternyata si cewek tadi kentut. DUT!! Eh, si Daromi sampai terloncat. Dia pikir cewek manis jarang kentut. Setelah kejadian itu si cewek langsung bernegosiasi dengan Daromi , "pokoknya jangan cerita ke temen temen yang lain ya !'. OK, Aman!

Cerita lain lagi,
Ketika seorang Ustad sedang berbelanja di Pasar Buah Batu Bandung, dilihat ada sebuah toko yang sepi dan Asri. Cukup lebar juga tempatnya, dan dijaga seorang wanita masih cukup muda. Mungkin anaknya yang punya toko tersebut. Sang Ustad melihat lihat barang yang akan dibeli, sambil membandingkan dengan barang merek lainnya. Ketika pencarian barang sedang berlangsung, rupanya si penjaga toko tersebut akan keluar kentutnya. Dan bener saja, DUT, kentutnya keras tanpa wanita itu sendiri bisa mengeremnya. Sekilas dilirik, wajah si wanita penjaga toko merah padam, malu sama sang ustad.

Namanya kentut , sudah terlanjur keluar tentu gak bisa ditarik lagi. Emang pilkada, sang ustad, tenang tenang saja, walau mendengar dengan jelas suara itu. Baginya kentut adalah karunia yang harus disyukuri. Kentut ya kentut, biarin saja, yang kentut tidak usah di olok olok juga tidak usah dikasih selamat. Masak kentut kok dikasih selamat! Ketika pemilihan barang usai, tiba sang ustad untuk membayar dan menuju wanita yang kentut tadi. Sekilas dilirik, wajah merah wanita itu masih terlihat. Dengan pura pura tidak sadar akan hal tersebut, sang ustad memberikan barang barang yang akan dibeli dan bersiap untuk membayar. Semua Rp 23.000 pak, kata penjaga tadi. Ustad tetap diam saja, Rp 23.000 Pak, wanita tadi mengulangi.

Berapa??? Tanya ustad. "Maaf dik, Telinga saya ini kurang pendengarannya . Ngomongnya harus keras , baru saya bisa mendengar dik. Suara mobil di depan jalan ini aja saya gak dengar dik", jelas sang Ustad. Wanita penjaga tadi tersenyum lega, wajahnya berbinar berarti orang yang belanja ini tidak dengar kentut saya tadi. Keduanya merasa lega, ustads kembali kerumahnya dengan tersenyum karena bisa menyelamatkan perasaan si wanita, sedang wanita penjaga toko bergembira karena hanya dialah yang tahu bunyi kentutnya.

Bijak dalam menghadapi sesuatu adalah kewajaran, termasuk dalam hal perkentutan. Bagaimana orang lain senang terhadap diri kita, dan bagaimana membuat orang lain tertutup rasa malunya perlu kebijaksanaan dalam menghadapi suatu masalah. Tidak membicarakan aib orang lain juga menjadi suatu hal yang sangat baik. Membicarakan kejelekan orang lain, kalau tidak ghibah tentu itu sebuah fitnah.

Kentut adalah anugerah, kesehatan, sekaligus bisa memalukan. Bijak dalam menyikapi kentut adalah keharusan.

Dari berbagai sumber


Cheers
Bunda Naila

02 June 2005

Betapa Miskinnya Kita

Suatu ketika seseorang yang sangat kaya mengajak anaknya mengunjungi sebuah kampung dengan tujuan utama memperlihatkan kepada anaknya betapa orang-orang bisa sangat miskin. Mereka menginap beberapa hari di sebuah daerah pertanian yang sangat miskin.

Pada perjalanan pulang, sang Ayah bertanya kepada anaknya.' Bagaimana perjalanan kali ini?'
' Wah, sangat luar biasa Ayah'. ' Kau lihatkan betapa manusia bisa sangat miskin' kata ayahnya.
' Oh iya' kata anaknya'. ' Jadi, pelajaran apa yang dapat kamu ambil?' tanya ayahnya.

Kemudian si anak menjawab. ' saya saksikan bahwa kita hanya punya satu anjing,
mereka punya empat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ketengah taman kita dan mereka memiliki telaga yang tidak ada batasnya. Kita mengimpor lentera-lentera di taman kita dan mereka memiliki bintang-bintang pada malam hari. Kita memiliki patio sampai ke halaman depan, dan mereka memiliki cakrawala secara utuh. Kita memiliki sebidang tanah untuk tempat
tinggal dan mereka memiliki ladang yang melampaui pandangan kita. Kita punya pelayan-pelayan untuk melayani kita, tapi mereka melayani sesamanya. Kita membeli untuk makanan kita, mereka menumbuhkannya sendiri.Kita mempunyai tembok untuk melindungi kekayaan kita dan mereka memiliki sahabat-sahabat untuk saling melindungi.'

Mendengar hal ini sang Ayah tak dapat berbicara. Kemudian sang anak menambahkan
' Terimakasih Ayah, telah menunjukan kepada saya betapa miskinnya kita.'
Source: Unknown

Kadang-kadang kita sering melupakan apa yang telah kita miliki dan terus memikirkan apa yang tidak kita punya. Apa yang dianggap tidak berharga oleh seseorang ternyata merupakan dambaan bagi orang lain. Semua initergantung dari cara pandang seseorang.
Mungkin akan lebih baik jika kita bersyukur kepada Allah sebagai rasa terima kasih
kita atas semua yang telah disediakan untuk kita daripada kita terus menerus khawatir untuk meminta apa yang belum kita miliki.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang bersyukur. Amin

Bunda Naila



 
Design by NATTA | Copyright @ ArisYantie - Bunda Naila Themes | Bunda Naila Corpuration